Janji seorang Ayah kepada anaknya

"Seharian ayah tak tenang, seperti orang kebingungan, fikiranku tak karuan , khawatirkan kamu disana."

Seperti itu lah yang ku pikirkan saat ini, aku merupakan seorang ayah yang tengah mengadu nasib di ibu kota. berbagai pekerjaan sudah ku lalui untuk bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan di Jakarta, kini aku merupakan petugas kebersihan atau yang mungkin akrab disebut pasukan oranye. walau mendapatkan gaji yang tak seberapa tapi aku sangat bersyukur karena masih bisa mendapatkan pekerjaan walau persaingan disini amatlah ketat.

Sudah hampir setahun aku tak berjumpa dengan budi anak semata wayangku, terlihat di foto yang selalu ku bawa ini senyuman yang begitu polos dari budi. budi masih berusia 9 tahun, aku masih ingat dulu waktu masih dikampung budi meminta ku untuk dibelikan sepatu bola karena memang hobinya bermain sepak bola.

Namun karena terbatasnya dana saat itu diriku tak mampu untuk membelikannya, walau begitu budi sadar dengan keadaan saat itu dan tersenyum. lalu ia pergi tuk bermain dengan teman - temannya, namun selayaknya ayah yang tak mampu membahagiakan anaknya, aku merasa sedih, aku pun berjanji pada diri sendiri untuk bisa menghadiahkannya sepatu bola.

Kini aku melanjutkan pekerjaanku dengan menyapu jalanan menyusuri ibu kota. seketika itu bola pun datang menghampiri diriku, aku pun melihat ke arah asal bola ini datang. rupanya disana terdapat beberapa anak kecil sedang bermain bola. dengan senyum aku pun melempar bola tersebut ke arah mereka supaya mereka bisa melanjutkan permainannya.

Aku kembali teringat dengan Budi, bagaimana kabar kamu disana? apakah kamu bahagia? atau malah sebaliknya? perasaan rindu ini kembali menghampiri diriku. dengan senyum yang tak mampu ku tahan aku melanjutkan pekerjaan ku ini. dalam perjalanan pulang aku pun menyempatkan diri ke toko sepatu untuk memenuhi janjiku untuk memberikannya hadiah sepatu bola ini. tak terbayang wajah bahagia nya ketika ia mendapatkan hadiah ini. dengan senyum mengembang aku membayar sepatu ini.

Malam setelah kejadian itu aku berbaring dengan kedua tangan ku jadikan bantal. menjelang tidur malam ku, ku kembali teringat dengan budi. saat - saat dimana aku melihat nya bermain sepak bola dari rumahku. saat budi memegang bola aku pun menyorakinya. bagaimana kabarmu nak disana? ayah akan selalu mendoakanmu walau ayah tak mendengar kabar sedikitpun dari mu.

"ayo - ayo budi, giring bola nya, awas! gocek kiri , yeayyyy" aku begitu senang untuk menyemangatinya, ingin ku segera pulang tuk menemuinya. semoga lusa dapat berlalu dengan cepat ya Allah. aku pun menutup hari itu dengan rasa rindu yang memuncak kepada anak ku.

Akhirnya hari yang kutunggu pun tiba, setelah mengemas seluruh barang dan ku taruh di ranselku, aku segera berangkat ke terminal untuk menemui dirimu budi. perasaan senang dan bahagia memenuhi hatiku. aku pun menatap foto budi kembali sambil menunggu bis dengan tujuan kampung halamanku tiba.

Akhirnya bus pun datang, dengan tak sabar aku bergegas masuk ke bis tersebut. namun ketika sudah masuk aku merasa seperti ada yang kurang. rupanya foto budi tak ada di kantungku. Gawat! apakah terjatuh saat aku berdesakkan ingin masuk Bis? aku kembali turun dari bis dan melihat foto budi tengah terinjak oleh kerumunan pejalan kaki.

Aku segera berlari menuju foto tersebut dan membersihkannya dari kotoran dan debu, aku pun berkata kepadanya dalam hati "sudah tak apa, sabar yah nak, ayah akan segera pulang. tetaplah tersenyum seperti itu yah, tunggu sebentar saja".

Akhirnya bis pun berangkat dan keadaan bus tersebut begitu penuh sesak dan ramai. banyak pasangan yang duduk berduaan di bis, mereka terlihat bahagia saling mengobrol. ada istri yang tidur di pundak suaminya, ada seorang anak yang menangis dan tengah di diamkan oleh ayahnya. pemandangan itu membuatku semakin rindu. tak apa sebentar lagi aku akan bertemu dengan mu.

Ditengah perjalanan ada pengamen yang berdandan seperti preman menaiki bis. mereka pun menyanyikan sebuah lagu dan setelah usai mereka berkelling bis untuk meminta bayaran kepada penumpang. Namun, disaat mereka hendak menagih ke seorang wanita di sampingku. wanita itu melakukan gesture menolak. sang pengamen pun marah dan berniat ingin memukul wanita tersebut sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

Melihat hal itu, dengan tanggap aku hendak menenangkan sang pengamen namun yang terjadi mereka malah memaksaku untuk keluar dari bis. aku pun terjatuh keluar dengan barang bawaan yang menindihku.

Setelah itu bis kembali berangkat dan aku mengejarnya berharap sang supir berbelas kasih namun bis itu terlalu cepat dan aku terjatuh tersungkur diatas tanah. pakaianku kotor penuh dengan tanah basah yang menempel disana.

Aku pun terduduk beristirahat dibawah pohon sambil memandang foto budi, "sabar yah nak, bentar lagi ayah pulang kok, ini ada musibah kecil tapi bentar lagi pasti pulang" ujarku sambil tersenyum. Aku pun memeluk erat foto tersebut tuk melepas semua kerinduan yang menghampiri diriku.

Seketika itu ada truk lewat, tahu akan hal itu aku segera menghampiri sang supir dan memintanya untuk menumpang tuk sampai rumah. Alhamdulillah sang supir mengizinkan dan aku pun naik di bagian belakang bersama dengan sapi - sapi yang dibawa oleh truk tersebut. Alhamdulillah tak mengapa, setidaknya sebentar lagi aku akan sampai di rumah untuk menemui putra kesayanganku ini.

Akhirnya setelah perjalanan yang panjang diriku sampai juga di kampung halaman dengan sepatu bola yang sudah ku beli di Jakarta. Dengan tak sabar aku menyusuri jalan tuk menuju rumah, aku mencoba tuk tenang namun rasa bahagia tuk bertemu dengan Budi membuatku gugup. "budi sabarlah ayah sudah ada dikampung".

Lalu aku melihat teman - teman budi tengah bermain bola di lapangan biasa mereka bermain. rupanya tak banyak hal yang berubah semenjak setahun ku pergi meninggalkan kampung ini. aku melihat ke arah mereka sejenak dan membayangkan ketika budi bermain dengan sepatu yang sudah ku beli ini. senyum bahagia budi pun terlintas di benakku ketika dia mencetak goal. Ia berlarian kesana kemari untuk merayakan goalnya. tak sadar air mata mulai mengalir di pipiku. aku kembali berjalan menuju rumah dengan air mata kerinduan yang tak mampu ku bendung. teringat kembali masa-masa bahagia dulu ketika kita bersama. tawa candamu merupakan obat dari semua keletihanku ketika dulu aku masih bekerja di kampung. "Nak, ayah pulang nak. Ayah pulang!!!". ujarku sambil menangis sejadi-jadinya.

Dengan isak tangis yang masih mengalir deras, aku berlutut disamping budi. teringat dulu dirimu menangis karena lapar belum makan siang namun ayah tak memiliki uang sama sekali. teringat dulu saat kamu masih kecil kau terjatuh dan menangis, ayah lah orang pertama yang menghampirimu untuk mengusap air matamu. kini ayah sudah berada dirumah nak. ayah sudah pulang.

Dengan memberikan janji yang pernah ku belikan dulu, aku menangis sambil memeluk makam mu. maafkan ayah nak sewaktu kamu masih hidup ayah belum mampu untuk membahagiakanmu, maafkan ayah yang belum mampu memberikan semua kebutuhanmu, maafkan ayah yang membuat hidupmu penuh dengan ujian kehidupan ini. bahkan saat kau jatuh sakit ayah tak mampu membawamu berobat sehingga kamu harus dipanggil duluan oleh Allah nak. kini ayah hanya mampu mengecup keningmu dari foto, kini ayah hanya mampu memelukmu dari foto nak mungkin Allah lebih sayang ke kamu sekarang. Ayah ikhlas nak, Ayah ikhlas. telah lama kita tak bertemu, tak lama ku dengan berita tentangmu, apa kabar kamu nak disana? ayah rindu. semoga Allah selalu menjaga mu disana dan semoga Allah melapangkan kuburmu yah nak.

Begitu lah kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. apabila ia sudah berjanji pasti akan ditepatinya hanya saja semua membutuhkan waktu karena manusia memiliki batas beda dengan Allah yang tak memiliki batas.

Semoga Allah merahmati dan menjaga ayah kita semua dari segala kejadian buruk baik di dunia maupun di akhirat nanti. Amiin🙏

Sumber referensi :




Komentar

Postingan Populer